Makan Malam-Malam
Bukan makan malam, makan malam-malam lebih malam dari makan malam. Makan malam-malam itu makan malam². Terkadang makan malam-malam juga lebih makan dari makan malam: makan² malam².
Sebagai penyintas maag, makan malam besar porsinya demi keberlangsungan hidup. Sungguh tidak enak sendawa sana-sini, tegang di belakang leher, dan kepala pening. Makan malam seringkali apa adanya. Terdekat dari tempat kerja agar istirahat tak terlalu lama.
Makan malam yang kupilih tentu hanya yang enak. Area bekerjaku di Sidosermo, Surabaya, dikelilingi makanan enak dengan variasi cukup beragam dari Hotways Chicken, Rumah Makan Ampera Pondok Minang, Nasi Campur Khas Madura Sumriyah, Mie Ayam Mitra, Bakmie Asia Bangsa, sampai Coto Makassar Daeng Dalle. Kalau teman-teman ramai berkumpul di kedai, aku bisa makan Huang Di yang berjarak agak jauh.
Lalu berputar di situ. Tidak sempat memperluas pilihan. Terlalu capek menggeser ujung jari. Terlalu lama bertukar “Kalau (nama penyaji kulineria atau jenis makanan) bagaimana?”. Terlalu sempit waktu sebelum perut meronta.
Lebih makan dari makan malam
Seusai menutup kedai dan tidak bokek, aku enggak langsung pulang. Pada istriku aku selalu beralasan, “Ini makan ketigaku kok.” (Fakta pada 80% situasi.) Sebetulnya aku enggak selalu ke suatu tempat makan dan membeli makanan berat.
Enggak jarang aku hanya ke minimarket lalu membeli minuman bersoda tanpa gula, Chi Forest, dengan perisa leci. Membukanya di depan minimarket lalu meminumnya sampai habis sekali teguk. Gelitik gelembung karbon dioksida yang lepas terkena gesekan di tenggorokan. Aroma perisa leci yang begitu pabrikan (!) karena tidak diseimbangi oleh ketebalan larutan. (Kejanggalan sensori dari kehadiran aroma tanpa sensasi raba yang umumnya hadir bersama.) Manis yang melayang; ada namun tak tegas kehadirannya pada permukaan lidah.
Kemudian sendawa.
Pada saat uangku cukup luang, aku mengarahkan motorku ke Jalan Tunjungan. Mampir ke satu-satunya tempat makan 24 jam di jalan besar itu: We The Fork. Beberapa kali secara konsisten aku memesan hanya dua hal: burger atau hotdog dan sekaleng Ramoe, minuman berperisa malt.
Aku memilih We The Fork karena daging dan sosis yang digunakan sama-sama diasap cukup lama. Aku memilih burger atau hotdog karena buatku profil aromatik hidangan dengan daging asap jenis apapun di restoran ini monoton. Hanya menonjolkan aroma asap dan gurih lemak tanpa ada riuh rasa dari kerak rempah baluran daging serta interaksinya dengan kayu bakar yang dipilih. Tidak begitu menghibur lidahku yang menggemari keriuhan. Walau dibuat sepaket dengan salad, sauerkraut kubis ungu, nasi basmati (aku suka! Aromatikanya kompleks dengan intensitas rempah yang kuat tanpa ketajaman mengganggu), dan saus pilihan pun tidak mengalihkanku. Pertemuan tiap komponen dalam sepaket itu memang riuh, tapi kurang padu; tidak seimbang dan tak jarang saling mengalahkan.
Adapun pada burger atau hotdog, kadar tiap komponen begitu pas! Gurih daging dan lemak smoked brisket atau sausage bersama patty yang digarami dengan pas; manis dengan keasaman segar dari sauerkraut kubis ungu; manis gurih ringan dengan tekstur lembut dari roti yang menjepit; asam kuat dengan aromatik rempah barbecue atau mustard dari saus yang tidak dibalur berlebihan. Disajikan bersama kentang goreng tebal, kering di luar, dan lembut di dalam.
Aku menulis ini semua dari ingatanku dengan tidak sulit. Justru tidak mudah menggambarkan makan malamku. Aku harus menggali lebih dalam, memperlambat gerak imaji dalam ingatan yang begitu cepat dan ambyar. Ia kabur seperti mimpi, kabut, dan asap yang tak hilang walau telah mengibaskan tangan.
Lebih malam dari makan malam
Sebelum foto di atas diambil, dua temanku baru saja sampai di Surabaya setelah beberapa hari di Jogjakarta. Mereka kelaparan setelah mengendarai mobil beberapa jam mengarungi jalan tol Solo ke Surabaya. Pukul 23.45, aku diberi kabar bahwa mereka sedang di We The Fork. Aku saat itu sedang di Richeese Factory (kalau tidak salah ingat!) Margorejo untuk mengerjakan video sejak pukul 21.30. Aku menawarkan diri menyusul mereka dan mereka menyambut. Tak perlu lama, aku langsung pergi ke We The Fork.
Pada hari yang lain, aku menyengajakan diri untuk menikmati Soto Ayam Joni di sisi selatan ujung barat Jalan Raya Kertajaya. Berbeda dengan penyaji soto ayam pada umumnya di Surabaya, warung ini dibuka tepat pukul 12 dini hari. Aku datang sekitar pukul setengah 12 malam. Rupanya sudah dibuka namun hanya menuliskan nama dalam daftar antrean. Aku kebagian urutan nomor 5. Lewat pukul 00.00, Ibu penyaji mulai menuangkan kuah soto. Seingatku, antrean sudah nomor 14. Melihat jumlah pengunjung, aku yakin sampai tutup bisa sampai 100 lebih nomor.
Aku tidak tahu tiap alasan orang makan malam-malam. Dua temanku kelaparan setelah perjalanan jauh. Soto Ayam Joni terkenal sebagai soto purel karena (ada rumor) banyak pekerja seks komersial makan di sana. Ada sepasang dewasa berjalan dari We The Fork ke Hotel Platinum. Holy shit, aku baru ingat! Salah satu kegemaran dua orang yang bercinta di kamar hotel adalah makan terang bulan malam-malam. Aku sendiri makan malam-malam untuk terkoneksi kembali ke kehidupan yang lebih luas. Kota yang temaram. Sisi lain yang tidak terlihat. Memegang lebih erat kendali pada diri sendiri. Sebelum tidur. Sebelum hari esok dimulai.