Perjamuan Kudus dalam Tanda Kutip

OLEH Heru Setiawan ·

DISUNTING OLEH Baskoro Aris Sansoko

Mengawali sebuah ulasan makanan dengan klarifikasi mungkin terdengar absurd. Namun, sepertinya perlu, sebab judul yang saya pakai terasa appropriating—yang tentu tidak saya maksudkan demikian. Judul tersebut saya pilih malah karena saya rasa appropriate (dalam waktu pikir yang singkat ini*), mengingat sejarahnya lekat dengan hubungan antar agama.

Soto Kudus, sebagaimana beberapa makanan tradisional Jawa lainnya, konon diinisiasi oleh salah satu penyebar agama islam di Jawa. Dari namanya pun kita bisa tebak siapa.

Yang unik dari masakan soto ini adalah daging yang dipakai; daging kerbau. Sunan Kudus, pada masa itu, memilih menggunakan daging kerbau untuk menghargai masyarakat Hindu yang menyucikan sapi. Harapannya, semua golongan masyarakat baik dan boleh menikmatinya terutama di hari raya umat Islam yang dipenuhi menu hewan pemamah biak.

Saya, kebetulan sebagai non-foodie yang tak banyak pengalaman menjelajah kuliner, hanya pernah makan soto ini di Sodus Kedai Taman di daerah Menanggal. Pengalaman pertama saya menemukan tempat makan ini, seperti pengalaman saya menjelajah kuliner lainnya, adalah lewat layar ponsel. Waktu itu saya sedang demam dan berusaha mencari menu makan malam yang hangat, berkuah, dan, kalau bisa, bertuah. Saya pesanlah sebungkus. Berkat rahmat Tuhan yang Mahakudus, mungkin lewat sedikit tuah dari kuahnya, sembuhlah saya keesokan harinya.

Makanan ini, meski kecil porsinya, penuh elemen dan tekstur. Mulai dari kecambah panjang yang kriuk, renyah dari kerupuk, bawang goreng yang lapuk, hingga daging kerbau yang cukup empuk. Semua bergabung dalam mangkuk layaknya mengucapkan, “Bagimu agamamu, bagiku agamaku,” dalam bahasa cecap lidah. Indah. Terdengar meromantisasi memang. (Seandainya saat saya yang sedang sakit itu sembuh dengan perantara tuah seblak tentu lain hal yang saya ulas dengan romantis dan pantas sekarang.)

Setelah lima paragraf ini, mungkin kamu masih menanti-nanti jawaban dari pertanyaan, “Bagaimana spesifik dan detailnya rasa hidangan ini?” Anggap saja kamu sedang menunggu pesanan sotonya: harus sabar; tak akan lebih dari setengah jam di hari biasa. Saya akan menjelaskan dengan bahasa bayi supaya inklusif dan semua golongan mudah memahami. Mari kita ulas satu per satu elemen perjamuan ini:

  1. Kuah

Saya bukan penyuka soto. Saya tak terlalu suka aroma jeruk nipis dalam soto Lamongan yang agak kecut itu. Walaupun demikian, bagi saya kuah soto Kudus itu nyaman tapi tetap detail. Saya tahu banyak cinta dan rempah masuk dalam tungkunya. Namun, lidah saya tak cukup bisa membedakan rasa rempah—yang saya tahu, ia tak hambar sama sekali. Yang bisa saya deskripsikan adalah warnanya yang lebih bening dan tak kuning seperti umumnya soto di Jatim dengan tetap sedikit keruh. Disediakan kecap kalau kamu ingin menambah manis, jeruk nipis kalau ingin menambah kecut, serta sambal kalau ingin lebih pedis. Seperlunya saja, menurut saya. Sudah enak.

  1. Daging

Sejujurnya, di lidah saya daging kerbau tidak jauh beda dengan daging sapi. Hanya agak lebih alot dan beraroma (aroma yang polarizing, that is). Iya, ada bau dalam daging kerbau, kaget tidak? (Tanpa “bau”, daging ini hanyalah daging “ker”, punten.) Memang tak seprengus daging kambing pada umumnya, tapi saya bisa merasakan jejaknya. Teksturnya pun sama berserat dan kenyalnya. Kalau tidak tahu itu daging kerbau, saya pasti menebak itu daging sapi!

  1. Pelengkap

Kalau beli di Sodus, saya selalu pasangkan dengan sate telur puyuh. Namun, kalaupun tidak, hidangan ini sudah dipersenjatai dengan kerupuk udang. Saya suka macam-macam teksturnya. Topping lain yang tak kalah penting adalah kecambah panjang yang kriuknya awet meski sudah terendam lama. Tak lupa bawang goreng yang tentu semua orang (menurut hemat saya) tak akan keberatan. Sangat cocok rasa dan teksturnya.

Ketiga elemen tersebut bersatu dalam mangkuk soto Kudus. Berbeda-beda tapi tetap soto jua. Tertarik coba tidak?

*Ulasan ini dipikirkan dan ditulis dalam sesi Menulis Kuliner Bersama di Studio Damai, Surabaya, dalam waktu sekitar 1–2 jam.