Cakue Nginden dengan Roti Goreng yang Harus Dicoba
Kelompok kuliner yang akan saya bahas kali ini adalah guilty pleasure kita semua, yaitu gorengan. Salah satu gorengan favorit warga Surabaya—pada berbagai etnis—adalah cakue. Tiap warga Surabaya memiliki bahkan fanatik terhadap cakue andalannya. Aku memilih Cakue Nginden sebab cakue ini terhitung populer di Surabaya. Di gerai ini hidangan utamanya tentu saja, sesuai nama, adalah cakue. Tentu saja cakue selalu berpasangan dengan dan tak lengkap tanpa roti goreng.
Pertama, saya ulas cakue dari tempat ini. Yang istimewa dari cakue ini adalah ukuran yang cukup besar daripada yang umum dijual di pasaran. Ia juga hampir selalu dalam kondisi panas langsung dari penggorengan apabila kita membeli di antara pukul 14.00-18.00. Kondisi yang masih panas ini memiliki andil dalam menambah kenikmatan cakue ini hingga 50%. Sebab, panas itu membantu menyamarkan sedikit after taste lemak menempel di rongga mulut yang kerap muncul ketika cakue ini dinikmati dalam kondisi dingin.
Soal lebih enak dinikmati dalam keadaan panas atau dingin tentu masih bisa diperdebatkan. Namun, saya yakin semua orang pasti sepakat bahwa cakue disini memiliki rasa dan aroma gurih yang tipis tapi membuat kita ketagihan menambah satu potong lagi dan lagi. Tekstur cakue yang renyah di luar dan kenyal di dalam semakin memperkuat efek itu. Kalau bukan karena kenyang, orang-orang pasti ingin menyuap terus. Saya yakin.
Perihal roti goreng, yang juga favorit saya, saya paling menyoroti taburan gula pasir dan wijen di atas roti. Bayangkan saja, sepotong roti panas, yang mengeluarkan aroma manis dengan permukaan yang tampak kasar karena wijen, ketika dibelah berisi rongga roti kecil merayap yang mudah ditekan serta mudah kembali ke bentuk semula. Ketika digigit, beraneka ragam tekstur yang ia miliki. Ada renyah, lembut, dan kenyal.
Ditambah dengan sensasi kres saat kita mengunyah lelehan gula pasir dan wijen di permukaan roti itu. Alhasil, setiap gigitan menghadirkan letupan-letupan kecil dari manis gula dan gurih wijen. Tak hanya itu, after taste ngendal yang ada pada cakue tidak saya rasakan di roti goreng ini. Oleh karena itu, kondisi masih panas, mungkin, berperan sekitar 30% terhadap kenikmatan hidangan ini. Panas hanya memperkuat aroma dan mempermudah gigi merobek roti sehingga terasa lebih ringan ketika dikonsumsi.
Seiring berjalannya waktu, Cakue Nginden melakukan pengembangan produk sehingga ada varian gorengan lainnya seperti tahu isi, ote-ote, onde-onde, lumpia, dan pastel. Karakter masing-masing hidangan tetap konsisten dengan ukurannya yang besar serta kerenyahan gorengan yang tahan lama. Cita rasa pun tidak perlu diragukan karena dengan toko yang sangat minimalis—hanya terdiri dari area penggorengan dan gerobak display, jam operasional yang cukup pendek—mulai pukul 14.00 hingga pukul 21.00, dan harga gorengan yang tidak tergolong murah— mulai dari 4-10 ribu rupiah, pembeli tidak berhenti datang silih berganti melarisi dagangan setiap hari.