Pecel Lele Gubeng Pojok

Nasi pecel lele Depot Sederhana—yang lebih sering saya dan kawan-kawan cangkruk sebut sebagai Gubeng Pojok atau Gupo, terletak berdempetan dengan Hotel Sahid dan Stasiun Gubeng Lama—adalah satu dari tiga menu favorit—bersama nasi campur dan nasi pecel—yang senantiasa saya pesan. Saya kali pertama mengenal sajian ini pada akhir 2000-an ketika harganya masih 11 ribu rupiah per porsi dan depot masih buka 24 jam yang hingga hari ini tidak satu kali pun saya mendapatinya mengalami penurunan kualitas. Satu porsi nasi pecel lele berarti satu piring nasi putih yang tidak terlalu banyak—sehingga tentu saja membuat saya tergoda memesannya sepasang seolah ada dua orang meskipun datang sendirian—dan satu cobek—sedang dan cokelat kemerahan—berisi sambal sebagai alas dua lele panas berukuran tidak pernah lebih daripada sejengkal, cenderung langsing, dan sekilas tampak cokelat kekuningan—yang mau tidak mau membawa kesan ringan dan garing, lengkap dengan lalapan berupa sepotong timun yang dipotong diagonal, tidak pernah lebih dari lima potong kacang panjang seruas kelingking, beberapa kuntum daun kemangi, dan setengah potong jeruk nipis. Terlepas dari bahwa lele adalah menu ikan favorit saya, lele olahan Gupo memiliki tempat istimewa dalam riwayat kuliner saya justru karena ia begitu sederhana, terlalu sederhana. Detik ketika pasangan piring dan cobek ini disajikan ke atas meja, hal yang pertama kali sampai kepada indra selain visualnya adalah samar aroma gurih-asin dan segar jeruk nipis. Dengan keasinan yang dapat dikatakan satu tingkat di atas rata-rata dan selarik tipis aroma bawang putih sebatas sebagai benteng terhadap amis, lele ini tentu akan seketika kehilangan auranya untuk sekadar dijadikan kudapan tanpa nasi. Bagaimanapun, pertemuannya dengan sambal tomat yang tampak jingga gelap sumringah alih-alih merah merana dan cenderung encer—meskipun tentu saja tidak sampai berair—adalah yang menjadikannya mudah menempati daftar makanan luar rumah paling mengesankan. Perjumpaan daging lele yang gurih, sedikit kenyal, dan renyah di sejumlah besar bagian—pada tataran yang menjadikannya dapat dikonsumsi hampir seluruhnya dengan hanya menyisakan tulang kepala dan tulang punggung hingga bagian tengah—dengan sambal tomat yang memiliki keselarasan antara pedas yang boleh dibilang cukup sopan karena tidak sampai menonjok telak meskipun tetap menghadirkan sekilas celekit dan manis-asam tomat serta sebersit asam dari jeruk nipis—tanpa interupsi dari rasa dan aroma terasi—untuk kemudian disatukan dengan nasi putih yang tidak pernah lembek menjadikan rasanya nyaris bening dalam artian berada di sepanjang lidah, tetapi tidak sampai menggenang di pangkal lidah sehingga apa yang kemudian dikatakan sebagai pascarasa pun menjadi begitu samar. Mungkin demikianlah yang dikatakan sebagai hidangan nyaman yang cocok-cocok saja untuk dikonsumsi sepanjang siang dan malam hingga pergantian hari di tengah riuh-rendah akustik jalanan yang sesekali ditimpa bunyi kucing mengeong di bawah meja, orang-orang yang datang dan menjelang pergi dengan kereta, serta udara bercampur asap rokok pada sepetak ruang semiterbuka dengan sejumlah kipas angin uzur dan dinding berornamen beberapa menu besar berpigura dari tahun entah yang telah menyepia akibat usianya.