Bicara tentang kuliner lokal Surabaya, pasti tidak jauh dari rujak cingur, rujak buah, petis udang, lontong balap, dan sebagainya. Berani, tegas, dan akrab dengan ragam olahan bahari. Seperti sebuah ungkapan, “We are what we eat”, kuliner Surabaya seolah mencerminkan karakter masyarakatnya.

Makanan-makanan tersebut sudah tidak asing di lidahku. Namun, sebagai seorang yang sudah menjadi warlok selama hampir seperempat abad menghabiskan hidupnya di kota ini, ada hasrat ingin mencari dunia selain perujakan dan perpetisan duniawi ini. Sebab, lama kelamaan aku merasa enek dengan cita rasa petis yang amis dan kuat. Akibatnya, muncul sebuah pertanyaan di benakku, “Apakah ada kuliner di belahan dunia lain yang berbagi akar cita rasa yang sama tetapi menghadirkan taste yang berbeda?”.

Akhirnya pada suatu waktu, entah bagaimana semesta menghubungkan rasa penasaranku dengan rujak buah khas negeri gajah putih. Saat itu, jemariku sibuk menggeser layar ponsel di Tiktok dan sampailah pada sebuah akun resmi pedagang asinan yang cukup viral di Surabaya, yaitu Asinan Queen. Video itu menampilkan pemiliknya yang merupakan warga asli Ambon, tengah menjelaskan bahan baku produknya yang dikemas dengan framing ‘premium’. Umumnya, asinan dibanderol dengan harga yang cukup miring. Tetapi di lapak beliau, justru harus merogoh kocek yang agak dalam.

Tentunya sebagai penikmat rujak dan asinan, aku ingin membuka wawasan tentang hidangan yang serupa. Kuputuskan untuk menuju lokasinya langsung yang terletak di Pakuwon Mall, salah satu mall terbesar di Surabaya. Sesampainya di sana, aku langsung menyebut nama hidangannya, bihun somtam. Sosok yang membuat bihun somtam bukanlah cici yang kutonton di layar ponsel. Salah satu karyawannya langsung mengambil sekotak thinwall berisikan bahan baku utama rujak Thailand ini. Bihun, kol ungu, kacang panjang serta kacang tanah yang sudah dicincang, tiga sampai empat potong udang, dan tomat untuk menambah asam. Sausnya cukup sederhana dengan mencampurkan air jeruk nipis, gula aren, dan kecap ikan. Cara penyajiannya adalah dengan menuangkan seluruh bahan baku ke sebuah cowek lonjong, kemudian ditumbuk secara perlahan dan menyeluruh untuk meratakan bumbunya.

Keberagaman warna dan teksturnya yang renyah mampu menghadirkan pesta kecil di mulut penikmatnya. Bayangkan lidahmu tengah merasakan pelangi. Di awal, lidahmu akan merasakan cita rasa asam yang dominan, kemudian disusul dengan manis dari gula aren sausnya. Bahkan rona warnanya merepresentasikan pelangi. Merah yang didapat dari buah tomat, jingga yang didapat dari potongan udang, hijau dari kacang panjang, ungu dari irisan kolnya, lalu bening kristal dari bihun hadir sebagai pelengkap warna-warna yang ramai dan berisik. Segar, ringan, dipadu dengan aroma kekacangan, dan bisa kukatakan bahwa somtam adalah versi lebih santai daripada rujak buah atau rujak cingur. Ibaratkan kedua hidangan ini sebagai teman, rujak bisa menemanimu ketika kamu butuh rasa yang lebih menendang, somtam hadir untuk duduk bersama di pinggir pantai saat matahari terbenam. Bagian terbaiknya? Dimakan saat dingin. Teman yang sangat cocok menemani hari-hari yang terik. Sampai detik ini, aku belum menemukan gerai atau tempat lain yang menjual bihun somtam yang sama enaknya dengan ini.

Salah satu kawan baik merekomendasikan somtam yang bisa ditemukan di kota Gresik. Jauhnya, mengapa harus mencari hingga ke pelosok dunia untuk menemukan jodoh yang tepat, pikirku begitu.

Namun bukankah itu yang kita cari? Sebuah rasa yang akrab, yang mungkin mengingatkanmu tentang suatu memori. Di ekspedisi kuliner rujak buah kali ini, aku merasa bahwa bihun somtam lebih mengingatkanku tentang hari-hari panjang yang diakhiri dengan penutup yang menyegarkan. Melalui bihun somtam, aku menemukan sebuah penghubung antara kuliner dan budaya dari dua negara yang bertetangga.