Dari Asing menjadi Akrab: Kecombrang dalam Sepiring Nasi Goreng Omahe Mbah Giyo
Kecombrang ialah bahan makanan yang terdengar asing di telinga maupun pikiran. Jarang sekali ia ditemukan di pasar-pasar atau toko kelontong yang menjajakan sayuran. Kecombrang merupakan salah satu bunga yang dapat dimakan dan hadir dalam berbagai masakan. Rasanya unik dan sulit kujelaskan. Ada gurih, ada sedikit asam, dan rasanya… seperti bunga. Sejak kecil, aku tidak pernah memakan bahan ini hingga suatu hari aku bertemu dengannya dalam sepiring nasi goreng.
Berbanding terbalik dengan kecombrang, nasi goreng malah dikenal di mana-mana. Di warung pinggir jalan, kantin sekolah, hingga restoran mewah, hampir selalu ada sajian nasi goreng. Bahkan, nasi goreng juga dikenal sebagai masakan nasional Indonesia di berbagai penjuru dunia.
Nasi goreng bisa tampil sangat mewah dengan daging cumi, udang, kepiting, atau olahan bahari lainnya. Ia juga bisa hadir dengan sangat sederhana. Cukup dengan bawang putih, bawang merah, garam, dan minyak goreng, seseorang sudah bisa menyajikan nasi goreng rumahan yang enak dinikmati. Rasanya pun sangat bervariasi: cenderung manis, asin, gurih asam, atau perpaduan dari semuanya. Pengalaman yang hadir saat menyantap nasi goreng begitu tergantung pada daerah asal resepnya, komposisi bumbu dan lauk yang digunakan, hingga siapa yang memasaknya.
Nasi goreng merupakan makanan favorit yang bisa kunikmati kapan pun. Saat sarapan sebelum berangkat sekolah, sebagai bekal makan siang di kantor, hidangan makan malam di rumah, atau teman nongkrong di larut malam. Nasi goreng setia menjadi masakan yang menenangkan ketika lelah sepulang beraktivitas sekaligus memberi semangat penuh energi di pagi hari.
Pertemuanku dengan nasi goreng kecombrang di Omahe Mbah Giyo menjadi pengalaman yang berkesan. Lokasinya yang tersembunyi di dalam gang di daerah Gubeng Kertajaya menjadikan tempat ini sebuah hidden gem di tengah kota. Nasi goreng kecombrang di Omahe Mbah Giyo juga tergolong terjangkau. Ia dihargai sekitar dua puluh ribuan. Perut bisa kenyang dan lidah ikut bergoyang kegirangan.
Ada dua pilihan lauk yang melengkapi nasi goreng kecombrang di Omahe Mbah Giyo. Ada ayam suwir menghadirkan rasa gurih yang sedap sekaligus menyerap bumbu nasi goreng yang khas dan memanjakan lidah. Ada tuna yang menawarkan sensasi wangi asap lebih menonjol. Rasa tuna yang tidak terlalu asin berpadu dengan bumbu nasi goreng begitu sempurna. Aroma kecombrang yang wangi pun terhirup di setiap suapan. Perpaduan semuanya menjadikan nasi goreng ini terasa unik dan menarik.
Seperti baru berkenalan dan langsung menjadi teman akrab, sesendok nasi goreng kecombrang terasa asing namun juga nyaman. Perpaduan rasa yang sekilas bertolak belakang justru terasa pas dan saling melengkapi di setiap sendoknya. Aroma bawang putih, bawang merah, kecambah, serta acar timun dan wortel bertemu dengan daging tuna yang smoky dan gurih, menjadikan nasi goreng ini semakin menggugah selera. Sedikit cabai memberi sentuhan pedas yang menyeimbangkan rasa, sementara selada segar menambah kesan ringan dan segar di akhir suapan.
Tak heran jika nasi goreng kecombrang Omahe Mbah Giyo berhasil membuatku ketagihan. Dari sesuatu yang awalnya asing, kecombrang justru menemukan jalannya ke dalam rongga-rongga selera dan kenanganku.